Silaturahmi Digital Idulfitri dan Era Normal Baru Kominfo Siapkan Dukungan Layanan Prima Telekomunikasi


KORAN.PEDOMAN JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menggelar konferensi pers daring dari Jakarta, Jumat (22/05/2020). Dalam konferensi pers itu Menteri Kominfo menyampaikan kesiapan dukungan Kementerian Kominfo untuk pelaksanaan silaturahmi digital Idulfitri 1441 H dan era normal baru akibat pandemi Covid-19.

Berikut pernyataan Menteri Kominfo dalam konferensi pers daring dari Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo:

1.   Saat ini, dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19.  Situasi ini berdampak pada seluruh sendi kehidupan baik nasional maupun internasional. Presiden RI Bapak Joko Widodo telah menetapkan pandemi ini sebagai bencana nasional nonalam seperti yang ditetapkan dalam Keppres Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana Nasional. Berbagai upaya dan kebijakan harus kita lakukan mulai dari penanganan medis, physical distancing, serta menerapkan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, serta beribadah di rumah.

2.   Covid-19 berhasil memaksa kita untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan kita secara drastis, seperti interaksi fisik atau tatap muka di dunia nyata yang berpindah ke dunia virtual dengan memanfaatkan kemajuan teknologi telekomunikasi. Kita juga melihat terjadinya percepatan transisi ke ranah digital seperti meningkatkan e-commerce,  meningkatnya penggunaan uang elektronik dalam transaksi ekonomi serta  penggunaan tanda tangan digital di ranah hukum. Setelah pandemi ini berlalu, kebiasaan-kebiasaan tersebut akan terus terbawa sebagai langkah preventif terhadap penyebaran virus di kehidupan sehari-hari dan kita akan memasuki fase New Normal. New Normal adalah kebiasaan-kebiasaan baru yang muncul sejak fase pandemi Covid-19 dan menjadi normal baru pasca pandemi Covid-19.

3.   Sektor industri telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi menjadi dasar terbentuknya ekosistem di era New Normal. Mobile broadband melalui jaringan seluler mengandalkan infrastruktur BTS (2G), NodeB (3G) dan eNodeB (4G) untuk melayani kebutuhan telekomunikasi masyarakat. Mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan jaringan seluler (mobile broadband) sebagai jaringan aksesnya.  Mengingat jaringan seluler menggunakan spektrum frekuensi radio sebagai media penghantarnya, maka ada kerentanan terhadap gangguan sehingga kualitas yang diterima masyarakat juga tidak maksimal. Masih sedikit dari masyarakat kita yang menggunakan jaringan fiber optik sebagai jaringan aksesnya. Jaringan fiber optik kapasitas tinggi biasanya hanya tersedia di kota-kota besar di Indonesia. 

4.   Pada saat diberlakukan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, terjadi peralihan signifikan trafik dari perkantoran, perguruan tinggi dan sekolah ke pemukiman dengan kenaikan trafik sekitar 10-15%. Dalam keadaan normal, saat Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1441 H trafik naik 20-30%, namun dalam kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahun 2020 ini terjadi kenaikan trafik 30-40%.

5.   Berbagai upaya dilakukan dalam mempersiapkan jaringan telekomunikasi untuk mengantisipasi lonjakan trafik dimaksud, di antaranya:

Menjaga kinerja jaringan telekomunikasi agar terus dapat memberikan layanan yang baik: (1) Jumlah  BTS  4G  eksisting  di kuartal-3  Tahun  2019  di  seluruh  Indonesia  tercatat sebanyak 173.294, BTS 3G sebanyak 188.849 dan BTS 2G sebanyak 116.982. Atau seluruhnya sekitar 479.125 unit. (2) Fiber optic (FO): Panjang FO inland: 224.583 km dan SKKL: 123.859. Sehingga total panjang FO kita adalah 348.442 km.
Menambah kapasitas pada BTS untuk mengantisipasi lonjakan trafik dan menyiapkan mobile BTS apabila diperlukan. Sampai saat ini, berdasarkan data yang disampaikan oleh operator, terdapat sekitar 178 mobi…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel