Lanjutkan Semangat Ulama dalam Mambangun Kemaslahatan


KORAN.PEDOMAN JAKARTA – Sebagai sosok yang berilmu dan pengayom umat, Ulama turut berperan dalam membangun kemaslahatan yang memberikan manfaat dan terus melakukan perbaikan. Oleh karena itu, peran ulama harus dapat terus dilaksanakan, tidak hanya untuk kemashlatan umat tetapi juga bangsa dan negara.

“Melakukan berbagai perbaikan-perbaikan yang tentu sangat dirasakan baik oleh umat dalam membimbing mereka sesuai dengan tuntunan Allah menuju kebaikan-kebaikan, dan juga perbaikan yang menyangkut kenegaraan, ishlah wathaniyah,” ujar Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin pada acara peringatan Haul Almaghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah yang ke-49 melalui video conference di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2 Jakarta.

Lebih lanjut, Wapres menilai Almaghfurlah K.H. Wahab Chasbullah merupakan tauladan yang patut dijadikan contoh. Karena semasa hidupnya, lanjut Wapres, Beliau adalah sosok ulama yang banyak berperan dalam membangun kemaslahatan bagi umat dan negara.

“Beliau telah banyak melakukan iqamatul mushalih wal manafi’, membangun kemaslahatan-kemaslahatan dan kemanfaatan, wa izalatul mafasid wal adrar, dan juga menghilangkan kerusakan-kerusakan dan bahaya-bahaya, baik yang menyangkut umat maupun menyangkut bangsa dan negara,” jelas Wapres.

Wapres juga menyebutkan bahwa dalam membangun kemaslahatan, Almaghfurlah K.H. Wahab Chadullah telah mempersiapkan ulama-ulama baru yang berpotensi untuk menggantikannya melalui banyak pesantren. Menurutnya, hal ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yakni apabila seorang ulama meninggal dunia, maka ilmunya akan turut bersamanya.

“Rasulullah menyatakan, innallaha la yantazi’ul ‘ilma intiza’an min shudurinnas, Allah tidak akan mengambil ilmu itu dari hati manusia. Walakin yantazi’u bi qabdhil ulama, tapi Allah akan mengambil ilmu itu dengan mengambil ulamanya,” ungkapnya.

Di samping itu, lanjut Wapres, fokus Beliau pada upaya i’dadul mutafaqqihina fiddin (menyiapkan generasi penerus yang memahami ilmu agama Islam) tidak hanya dilakukan dengan membangun pesantren, tetapi juga melalui organisasi kemasyarakatan.

“Alumni-alumninya yang dicetak oleh Beliau melalui pesantren, bahkan juga kader-kader yang dididik melalui organisasi NU (Nadhlatul Ulama). Walaupun tidak belajar di pesantren, itu adalah menjadi para penerus yang sampai hari ini meneruskan perjuangan beliau dan ulama-ulama lain,” tambah Wapres.

Melihat kondisi bangsa saat ini dalam menghadapi pandemi Covid-19, Wapres menilai peran ulama sangatlah dibutuhkan. Utamanya dalam membantu meminimalisir masyarakat terdampak di bidang kesehatan, sosial, maupun ekonomi.

“Oleh karena itu, bagi kita para ulama, menjadi sesuatu tanggung jawab yang harus kita mengambil peran untuk menghilangkan dharar (bahaya) ini, untuk izalatul mafasid wal adrar, paling tidak kita bisa ikut berperan yaitu tasghirul mafasid wal adrar, memperkecil kerusakan dan bahayanya, atau meminimalisir supaya tidak berdampak lebih luas,” imbuh Wapres.

Menutup sambutannya, Wapres berharap agar masyarakat Indonesia dapat terus menjaga semangat dalam membangun kemaslahatan.

“Mudah-mudahan semangat ini semangat untuk menghilangkan mafsadah [kerusakan], semangat menghilangkan bahaya, semangat membangun kemaslahatan dan kemanfaatan harus terus kita pupuk sepanjang masa,” pungkas Wapres.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut mengamini agar para santri dan alumni pesantren dapat terus membangun semangat perjuangan K.H. Wahab Chasbullah.

“Oleh karena itu seluruh santri-santri yang merasa akan menjadi bagian dari penerus perjuangan K.H. Wahab maka Saudara adalah para speaker, para jubir untuk menyebar damai, membawa pikiran-pikiran besar dari seorang K.H. Wahab,” jelas Khofifah.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah juga menambahkan, menurutnya Almaghfurlah K.H. Wahab Chasbullah merupakan sosok pejuang yang memiliki kontribusi yang besar bagi pembangunan Indonesia. Bukan hanya memperjuangkan pada bidang agama saja tetapi ia juga serius dalam membebaskan Indonesia dari penjajah.

“Kontribusi beliau terhadap adanya Indonesia tidaklah kecil perannya. Ia turut memperkuat ekonomi nasionalisme menjadi strategi perjuangan kolektif,” ucapnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel